Jawapan Ketua AMK kepada PM Najib Razak berkaitan isu Rais Yatim

Angkatan Muda Keadilan Malaysia (AMK) menyelar kenyataan terbaru Perdana Menteri, Dato’ Sri Najib Tun Razak yang mempertikaikan dakwaan ke atas Menteri Penerangan, Komunikasi & Kebudayaan Datuk Seri Utama Dr. Rais Yatim.

Antara lain Najib mempertikaikan kenapa dakwaan yang berlaku pada tahun 2007 dibangkitkan pada tahun 2011. Suka diingatkan, isunya bukanlah masa, sebaliknya isu yang timbul ialah salahlaku jenayah seksual yang didakwa telah berlaku dan tentunya secara tidak langsung boleh menyebabkan kekeruhan hubungan diplomatik antara Malaysia dan Indonesia.

Isu ini pernah dikemukakan oleh MigrantCare, NGO yang bertanggungjawab mengenai isu kebajikan pekerja Indonesia di Malaysia pada tahun 2007, tetapi tidak ada sebarang tindakan oleh kerajaan pada ketika itu.
Tindakan Najib mengatakan bahawa ‘Rais tidak boleh dihakimi sehinggalah siasatan dijalankan’ juga adalah satu kenyataan yang sangat tidak bertanggungjawab !

Terbukti wujud dua set undang-undang yang berbeza untuk ahli Umno dan musuh Umno. Di saat Datuk Seri Anwar Ibrahim diserang media, dinafikan hak bersuara, dikecam peribadinya di sebalik perbicaraan mahkamah yang lompong dan belum dibuktikan bersalah, tindakan Najib ini jelas bersifat dangkal.

Sekiranya benar sebagaimana kata Najib bahawa dakwaan ke atas Rais ini perlu disiasat, maka wujud kewajaran mendesak agar Rais digantung tugas atau direhatkan sementara daripada menjalankan tugas selaku ahli kabinet untuk mengelakkan sebarang ‘conflict of interest’.

Malaysia tidak harus lupa dengan insiden penarikan diri Rais selaku calon Setiausaha Agung Komanwel pada tahun 2007 dahulu,kira-kira 5 bulan selepas dakwaan merogol amah beliau tercetus. Apakah ada rahsia di sebaliknya?
AMK mendesak agar Najib selaku Timbalan Perdana Menteri ketika itu menjawab persoalan ini pada kadar segera.

Shamsul Iskandar Mohd Akin
Ketua
Angkatan Muda Keadilan Malaysia

Isu Perkosaan: Kenyataan Media Migrant Care

Menyikapi Perkembangan Kasus Dugaan Perkosaan terhadap PRT Migran oleh Menteri di Malaysia Pada tahun 2007

Dalam sepekan terakhir ini, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh Wikileaks yang mengungkap beberapa dokumen rahasia dan salah satunya adalah perihal dugaan perkosaan yang dialami oleh PRT migran Indonesia oleh seorang Menteri di Malaysia pada tahun 2007 silam. Di dalam dokumen tersebut, juga menyebutkan tentang Migrant CARE.

Migrant CARE pada pertengahan bulan Juli 2007 silam, memang telah melakukan investigasi mengenai kasus dugaan perkosaan yang dialami oleh RB dengan pelaku majikannya selama menjadi PRT migran di Malaysia. Dan majikannya adalah seorang menteri. Namun pihak korban tidak mau kasus tersebut diungkap ke publik dan tidak menuntut secara hukum. Dan Migrant CARE kemudian menyerahkan hasil investigasi tersebut kepada pihak pemerintah yakni, Mabes Polri dan KBRI Kulalampur.

Hingga kasus ini diungkap oleh Wikileaks pada akhir Desember 2010, Migrant CARE tidak pernah mengungkapkan kasus ini sesuai dengan permintaan korban. Dengan terungkapnya kasus ini, Migrant CARE berharap agar Pemerintah RI bisa menuntaskan kasus ini yang memenuhi rasa keadilan bagi korban.

Kasus ini juga memberikan pelajaran kepada pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk segera menuntaskan revisi MoU antara Indonesia-Malaysia tentang perlindungan PRT migran. Diharapakan revisi MoU tersebut akan menjadi inastrumen hukum yang melindungi sekaligus meminimalisir kerentanan-kerentanan PRT migran Indonesia terhadap berbagai bentuk pelanggaran HAM, seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual dan perkosaan.

Jakarta, 7 Januari 2011

Anis Hidayah, Direktur Eksekutif 081578722874
Wahyu Susilo, Policy Analist 08129307964

Isu Perkosaan Menteri Malaysia Tidak Diadukan

Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

VIVAnews – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur pernah menerima laporan perkosaan, yang diduga dilakukan seorang menteri Malaysia terhadap seorang tenaga kerja wanita (TKW), dari LSM Migrant Care. Namun, setelah memperhatikan permintaan korban, baik KBRI dan Migrant Care sepakat untuk tidak mengadukan kasus itu ke aparat berwenang.

Demikian ungkap mantan pejabat KBRI Kuala Lumpur, Tatang Razak. Saat memimpin Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan WNI di KBRI Kuala Lumpur pada 2007, Tatang mengaku menerima sendiri laporan itu.

Laporan Migrant Care kepada KBRI itu, lanjut Tatang, berasal dari pengakuan adik korban bahwa kakaknya, yang berinisial Rb, menjadi korban perkosaan. Laporan yang diterima kemudian ditindaklanjuti dengan meminta keterangan langsung dari yang bersangkutan. Namun, korban akhirnya mengatakan tidak ingin melaporkan hal tersebut ke kepolisian Malaysia.

“Korban tidak mau melaporkannya. Akhirnya, kita (KBRI) sepakat dengan Migrant Care, kasus ini tidak bisa diproses lebih lanjut karena proses hukum mesti ada delik aduan dari yang bersangkutan,” ujar Tatang, yang sejak akhir 2010 dipanggil ke Jakarta untuk menjadi Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia di Kementrian Luar Negeri (Kemlu).

Dia mengatakan, situasi akan menjadi lain kalau saja korban mau menindaklanjutinya dengan melapor ke kepolisian setempat. KBRI, ujar Tatang, pasti akan menangani proses kasus dan pembelaan korban dengan berbagai upaya jika aduan telah dilayangkan.

“Tapi, sekarang, orangnya [korban] sudah di Indonesia, tidak mengadukan. Jika ada pengaduan, kalau menyangkut perlindungan WNI, maka itu menjadi tugas kita,” ujar Tatang.

Menurut laporan adik korban, kasus perkosaan ini diduga terjadi saat Rb bekerja di rumah keluarga seorang menteri bergelar Datuk Seri pada 2007. Sejumlah media alternatif dan blog di Malaysia, seperti Sentinel Asia, Free Malaysia Today, dan blog Rocky Bru menyebut nama Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Rais Yatim pernah memperkosa pembantunya yang asal Indonesia empat tahun lalu.

Rais telah membantah tudingan itu pada 5 Januari lalu. Dia menyatakan tudingan itu sebagai fitnah untuk menghancurkan reputasinya dan menyatakan siap bekerja sama bila ada penyelidikan dari pihak berwenang.

Kasus itu juga diungkap laman Harakah Daily, yang memberitakan bocoran data dari WikiLeaks. WikiLeaks dikabarkan mengacu pada blog Rocky Bru, blogger Malaysia yang juga mantan Pemimpin Redaksi The Malaysia Mail.

Dalam blog Rocky Bru, muncul tautan (link) suatu dokumen mengenai dugaan perkosaan atas seorang pembantu Indonesia, berinisial Rb. Dokumen itu mencantumkan laporan investigasi lembaga pembela hak-hak pekerja asal Indonesia, Migrant Care.

Tatang mengatakan bahwa laporan dari adik korban tersebut tidak bisa dijadikan acuan dalam pengajuan perkara. “Orang bisa ngomong apa saja. Namun yang melapor harus yang bersangkutan,” ujar Tatang. (sj)